Sabtu, 22 Januari 2011

Masjid Sederhana Tapi Bermanfaat. Bukan Mewah tapi Sepi

Assalamu'alaikum wr wb,

Masjid Sederhana Tapi Bermanfaat. Bukan Mewah tapi Sepi
Masjid adalah pusat ibadah ummat Islam. Di sanalah ummat Islam shalat
berjama’ah dan melakukan berbagai kegiatan lainnya.

Membangun masjid imbalannya sangat besar, yaitu: surga:
Usman bin Affan ra.: Kalian berlebih-lebihan, sesungguhnya aku mendengar
Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang membangun sebuah mesjid karena
Allah Taala, maka Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di surga. (Shahih
Muslim No.828)
Barangsiapa membangun untuk Allah sebuah masjid (mushola) walaupun sebesar
kandang unggas maka Allah akan membangun baginya rumah di surga. (HR.
Asysyihaab dan Al Bazzar)

Meski demikian, tidak jarang saat ini banyak pengurus masjid yang membangun
masjid secara berlebihan dengan bermegah-megahan. Ada yang sampai membuat
masjid dengan kubah emas. Padahal ummat Islam masih banyak yang miskin dan
terbelakang.

Ironisnya lagi, masjid yang dibangun secara mewah tersebut lebih sering
terkunci karena takut ada yang mencuri. Akibatnya orang justru sulit untuk
beribadah. Mesjidnya mewah, tapi sepi dari orang yang beribadah. Apalagi ketika
shalat subuh, kurang dari 5 shaf. Masjid akhirnya justru jadi tempat tujuan
wisata. Bukan tempat orang untuk beribadah.

Anas mengatakan, "Banyak orang yang akan bermegah-megahan dalam mendirikan
masjid, tetapi mereka tidak memakmurkannya melainkan sedikit"[HR Bukhari]
Ada yang beranggapan bahwa menghiasi masjid sehingga indahnya melebihi gereja
atau sinagog itu adalah syiar Islam/dakwah, padahal Nabi mengecam hal itu
sebagai mengikuti kaum Yahudi dan Kristen:

Ibnu Abbas berkata, "Sesungguhnya, kalian akan bersungguh-sungguh menghiasi
masjid-masjid kalian seperti orang-orang Yahudi dan Kristen menghiasi gereja
dan rumah ibadah mereka." [HR Bukhari]

Aku tidak menyuruh kamu membangun masjid untuk kemewahan (keindahan)
sebagaimana yang dilakukan kaum Yahudi dan Nasrani. (HR. Ibnu Hibban dan Abu
Dawud)

Ada yang berpendapat bahwa Allah itu suka keindahan, oleh karena itu membangun
masjid harus indah:
Sesungguhnya Allah indah dan senang kepada keindahan. Bila seorang ke luar
untuk menemui kawan-kawannya hendaklah merapikan dirinya. (HR. Al-Baihaqi)
Tapi maksud hadits di atas adalah indah dalam arti rapi dan tidak berlebihan.
Jika untuk jadi indah itu harus boros, megah, dan mewah, justru itu dibenci
Allah.
Orang yang boros atau menghambur-hamburkan uang secara berlebihan untuk sesuatu
termasuk membangun masjid menurut Allah adalah saudara setan:
“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang
miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan
(hartamu) secara boros.
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan
itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” [Al Israa’:26-27]

Karena itu penghematan penting dilakukan. Penggunaan pintu, jendela, atau pun
bahan yang tembus sinar matahari (meski warna susu/krim agar tidak panas) bisa
dipakai sehingga penggunaan lampu di siang hari yang cerah bisa dihindari.
Ventilasi yang baik atau pun penanaman pohon untuk menghalangi sinar matahari
bisa menurunkan suhu masjid agar tidak panas.

Allah membenci orang yang suka kemewahan dengan hukuman neraka:
“...Orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada
pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa...” [Huud 116]
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada
orang-orang yang hidup mewah di negeri itu supaya mentaati Allah tetapi mereka
melakukan kedurhakaan, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya ketentuan
Kami, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” [Al Israa’ 16]
“Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewahan.” [Al Waaqi’ah 45]
Kebencian Allah terhadap orang yang hidup mewah tercermin di Saba’ ayat 34, Al
Muzzammil 11, dan Az Zukhruf ayat 23.
Allah membenci orang yang bermegah-megah sebagaimana disebut dalam Al Hadiid 20
dan At Takaatsur:
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu” [At Takaatsur 1]
Sesungguhnya membangun masjid mewah/indah itu adalah satu tanda kiamat. Dan
kiamat itu akan terjadi saat orang-orang sudah tidak beriman lagi kepada Allah.
Belum akan datang kiamat sehingga manusia berlomba-lomba membangun dan
memperindah masjid-masjid. (HR. Abu Dawud)

Sebaliknya meski gereja-gereja Romawi, Mesir, dan Syams sangat bagus, namun
Nabi tidak mau menandingi keindahannya. Padahal dalam segi kekuatan, kerajaan
Romawi dan Persia di bawah ummat Islam. Nabi tetap membuat masjid yang
sederhana dengan atap dari pelepah pohon kurma:
Abu Said berkata, "Atap masjid terbuat dari pelepah-pelepah pohon kurma."[HR
Bukhari]
Umar juga melarang mewarnai masjid dengan warna merah dan kuning agar orang
tidak tergoda akan keindahan masjid sehingga jadi tidak khusyuk beribadah untuk
Allah SWT:
Umar menyuruh membangun masjid dan berkata, "Lindungilah manusia (yang
berjamaah di dalamnya) dari hujan. Jangan sekali-kali diwarnai merah atau
kuning karena hal itu dapat menyebabkan orang-orang tergoda (tidak khusuk)."
[HR Bukhari]
Abdullah bin Umar berkata bahwa masjid pada zaman Rasulullah saw dibangun
dengan batu bata, atapnya dengan pelepah korma, dan tiangnya dengan batang
pohon korma. Abu Bakar r.a. tidak menambahnya sedikit pun. Umar r.a..
menambahnya dan membangun masjid seperti bangunan di masa Rasulullah saw dengan
batu bata dan pelepah korma, dan mengganti tiangnya dengan kayu. Selanjutnya,
Utsman r.a. mengubahnya dan melakukan penambahan yang banyak. Ia membangun
dindingnya dengan batu yang diukir dan dibuat pola tertentu. Ia menjadikan
tiang nya dari batu yang diukir dan atapnya dari kayu jati. [HR Bukhari]
Niat kita beribadah di masjid adalah untuk menyembah Allah. Bukan untuk
mengagumi keindahan masjid.

Sebaliknya meski masjid di zaman Nabi sangat sederhana, namun manfaatnya sangat
besar bagi masyarakat. Para pendatang bisa tidur dan bertempat tinggal di teras
masjid yang biasa disebut Shuffah:
Anas berkata, "Beberapa orang dari suku Ukal datang kepada Nabi Muhammad saw.,
kemudian mereka bertempat di teras masjid." [HR Bukhari]
Orang-orang miskin yang tidak punya tempat tinggal juga berdiam di teras
masjid/shuffah. Jumlahnya pada zaman Nabi sekitar 70 orang. Di antaranya adalah
Abu Hurairah, Abu Darda, Abu Dzar, dan sebagainya. Karena tinggal di masjid,
setiap ada ceramah dari Nabi, mereka mendengarnya sehingga akhirnya mereka
menjadi alim. Mereka jadi tempat bertanya. Banyak hadits diriwayatkan oleh
mereka.
Abdur Rahman bin Abu Bakar berkata, "Orang-orang Ahlush Shuffah (orang-orang
yang berdiam di teras masjid) itu adalah orang-orang fakir." [HR Bukhari]
Abu Hurairah berkata, "Aku melihat ada tujuh puluh orang dari Ahlush Shuffah,
tiada seorang pun di antara mereka itu yang mempunyai selendang. Mereka hanya
memiliki izar (kain panjang) atau lembaran-lembaran kain yang diikat seputar
leher mereka. Di antara lembaran kain itu ada yang hanya sampai pada separo
betis dan ada yang sampai pada kedua mata kaki, dan mereka menyatukannya dengan
tangan mereka, karena khawatir aurat mereka terlihat" [HR Bukhari]
Para sahabat Nabi yang kaya seperti Abu Bakar biasa memberikan makanan kepada
Ashabus Shuffah [Shahih Muslim No.3833].

Jika masjid sekarang punya shuffah untuk tempat tinggal bagi orang-orang
miskin, serta orang-orang kaya mau memberi makan mereka, niscaya para gelandang
dan anak-anak jalanan yang saat ini jumlahnya begitu banyak tidak akan
berkeliaran di jalan dan kelaparan.

Zaman Nabi, meski masjid sederhana, namun bagi orang-orang miskin manfaatnya
begitu besar. Zaman sekarang meski masjid begitu mewah sampai ada yang berlapis
emas, nyaris tidak bermanfaat bagi orang miskin. Jangankan untuk tempat tinggal
orang miskin. Untuk orang beribadah saja sulit karena sering dikunci.

Meski demikian, masjid harus senantiasa bersih dan wangi sehingga orang betah
tinggal di dalamnya. Tidak kotor, jorok, dan bau. Harus ada Merbot yang
senantiasa menjaga kebersihan masjid. Ini tentu perlu manajemen yang baik dan
rapi. Nabi pernah “menegur” seorang Arab Badui yang kencing di masjid dengan
cara yang amat halus. Nabi tidak memarahinya. Namun langsung menyiram bekas air
kencingnya.

Rasulullah Saw menyuruh kita membangun masjid-masjid di daerah-daerah dan agar
masjid-masjid itu dipelihara kebersihan dan keharumannya. (HR. Abu Dawud dan
Tirmidzi)

Zaman Nabi, masjid bukan hanya sekedar tempat shalat dan berzikir. Namun orang
juga bisa menyenandungkan syair selama tidak mengganggu orang shalat (tidak di
waktu shalat).

Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf: "Umar lewat di masjid dan Hasan sedang
bersenandung. Hassan berkata kepada Umar yang memelototinya, 'Aku pernah
bersyair di dalamnya, sedangkan di sana ada orang yang lebih baik daripada
engkau (Nabi Muhammad SAW).' Hassan lalu menoleh kepada Abu Hurairah seraya
berkata: Aku meminta kepadamu dengan nama Allah, apakah kamu mendengar
Rasulullah saw. bersabda, 'Wahai Allah, kuatkanlah ia (Hasan) dengan ruh suci
(Jibril).' Abu Hurairah menjawab, 'Ya.' [HR Bukhari]
Bahkan di HR Bukhari juga disebut Nabi bersama Siti ‘Aisyah pernah melihat
orang-orang Habsyi bermain tombak.

Selain itu, orang yang jadi tawanan atau bermasalah bisa diikat di tiang
masjid. Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abu Hurairah pada
Kitab ke 21 'al-Amal fish Shalah', Bab ke-10."

Bahkan di zaman Nabi, masjid juga ternyata mempunyai manfaat sosial seperti
tempat merawat orang sakit. Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits
Aisyah yang tertera pada Kitab ke-64 'al-Maghazi', Bab ke-72." Bahwa Ummat
Islam membuat kemah di masjid untuk orang-orang sakit dan lainnya. Saat
sekarang, paling tidak di samping masjid orang membangun Majelis Ta’lim dengan
Poliklinik Kesehatan untuk melayani masyarakat.

Mimbar masjid:
Hadis riwayat Sahal bin Saad ra.:
Bahwa beberapa orang menemui Sahal bin Saad. Mereka berselisih mengenai jenis
kayu mimbar Rasul. Lalu kataku (Sahal): Demi Allah saya benar-benar tahu jenis
kayu mimbar itu dan siapa pembuatnya. Aku sempat melihat pertama kali
Rasulullah saw. duduk di atas mimbar itu. Abu hazim berkata: Aku katakan kepada
Abu Abbas: Ceritakanlah! Ia berkata: Rasulullah saw. pernah mengutus seseorang
kepada istri Abu Hazim. Abu Hazim berkata bahwa beliau pada hari itu akan
memberi nama anaknya, beliau bersabda: Lihatlah anakmu yang berprofesi tukang
kayu. Dia telah membuatkan aku sebuah tempat di mana aku berbicara di hadapan
orang. Dia telah membuatnya tiga anak tangga. Kemudian Rasulullah saw. menyuruh
meletakkannya di tempat ini. Mimbar tersebut berasal dari kayu hutan. Aku
sempat melihat Rasulullah berdiri di mimbar sambil membaca takbir yang diikuti
oleh para sahabat. Setelah beberapa lama berada di atas mimbar, beliau turun
mengundurkan diri lalu melakukan sujud di
dasar mimbar. Kemudian beliau kembali hingga beliau selesai salat. Setelah itu
beliau menghadap ke arah para sahabat dan bersabda: Wahai manusia, sesungguhnya
tadi aku lakukan hal itu agar kalian mengikuti aku dan kalian dapat belajar
tentang salatku. (Shahih Muslim No.847)

Di zaman Nabi saja ada orang-orang munafik yang sengaja membangun masjid
(Masjid Dliror) untuk memecah-belah ummat Islam. Nabi dengan tegas
menghancurkannya. Oleh karena itu, ummat Islam juga tetap harus mewaspadai
usaha orang-orang munafik gaya baru yang jumlahnya niscaya bertambah besar.
Dan di antara orang-orang munafik itu ada orang-orang yang mendirikan masjid
untuk menimbulkan kemudharatan pada orang-orang mukmin, untuk kekafiran dan
untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan
orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka
Sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan." Dan Allah
menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).
[At Taubah:107]

Hanya orang-orang yang beriman saja yang boleh memakmurkan masjid. Ada pun
orang-orang musyrik tidak pantas karena mereka sendiri tidak beriman kepada
Allah dan Nabi Muhammad serta mempersekutukan Allah:
“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah,
sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang
sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka.
Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman
kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat
dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah
orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat
petunjuk.” [At Taubah 17-18]

Demikian sekilas perbandingan masjid di zaman Nabi yang fungsi sosial dan
kemasyarakatannya begitu besar dengan masjid sekarang. Memang ada masjid yang
seperti zaman Nabi, namun sayangnya jumlahnya masih sedikit sekali.

Referensi:
HR Bukhari, HR Muslim, HR Abu Daud, HR Tirmidzi dari Hadits Web 3.0 dan Al
Qur’an Digital yang bisa didownload di www.media-islam..or.id

(dikutip dari www.mail-archive.com/syiar-islam@yahoogroups.com, tulisan A Nizami, dipublikasikan Minggu, 25 Oktober 2009 pukul 19:01:19 -0700)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar